Pemimpin tidak dilahirkan dari ruang-ruang kelas. Pengajaran mengenai
berbagai konsep tentang kepemimpinan, hakikatnya, gaya-modelnya,
atribut-atribut dan sifat-sifatnya, jenis-jenis karismanya, bakat dan
talenta yang diperlukan, tentu berguna. Namun, hal menjadi pemimpin
bukanlah soal pengetahuan semata. Orang tidak bisa menjadi pemimpin
dengan melakukan riset secara online di internet, berapa tahun pun itu
dilakukan. Ia harus keluar kelas, beranjak dari kursinya, meninggalkan perpustakaan, dan berinteraksi dengan manusia lainnya.
Pelatihan kepemimpinan juga akan bermanfaat. Meningkatkan keterampilan
berkomunikasi, jelas perlu. Mengasah kemampuan untuk menunjukkan arah
(direction), membagi-bagi peran dan tugas, pasti penting. Menumbuhkan
kemahiran dalam memotivasi dan membangkitkan kembali semangat, sangatlah
vital. Menajamkan kemampuan untuk mengambil keputusan secara cepat dan
tepat dan berpikir kreatif out of the box, juga tak bisa disangkal arti
pentingnya. Tetapi, hal menjadi pemimpin bukanlah soal-soal pelatihan.
Sejuta sertifikat dari lembaga-lembaga pelatihan kepemimpinan yang
paling terkemuka di bumi ini, tidak otomatis membuat seseorang menjadi
pemimpin.
Untuk menjadi pemimpin seseorang perlu mengalami proses
pendidikan. Artinya, ia mengalami proses pemanusiawian dirinya sendiri
secara berkelanjutan. Ia perlu menemukan contoh-contoh yang dijadikannya
panutan; dan ia sendiri bertanggung jawab untuk membentuk dirinya agar
mengalami proses transformasi menjadi teladan-contoh-panutan bagi
lingkungan konstituennya. Ia harus menjadi manusia transisi, kata
Stpehen R. Covey. Menjadi pemimpin, kata Warren Bennis, adalah menjadi
diri sendiri yang otentik, atau dalam istilah saya: Menjadi seperti
Rajawali.
Waktu terus bergulir dan dunia selalu mengalami perubahan.
Orang-orang di belahan dunia lainnya selalu berkembang, belajar dan
beradaptasi terhadap perubahan. Never give up, fix mistake and keep
stepping. Terus melangkah, perbaiki diri dan senantiasa belajar untuk
dapat survive dan beradaptasi terhadap perubahan itu sendiri. Semua
boleh bicara, semua boleh kritik, semua boleh cerita sejarah, tetapi
hanya "orang-orang terpilih" yang mampu mencetak sejarah.
